Tampilkan postingan dengan label nyepi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyepi. Tampilkan semua postingan

Krama Tridatu dan Melasti setelah Nyepi

Meski berada dalam arus pusaran gaya hidup kota, Desa Pakraman Buleleng tetap mempertahankan berbagai keunikan dan kekhasan daerahnya. Salah duanya adalah mempertahankan eksistensi warga tridatu atau krama negak atau krama petang dasa dan tradisi melasti setelah hari Nyepi yakni pada purnama sasih kedasa.

Krama Tridatu adalah simbolis dari pengiring Ki Barak Panji (yang kemudian menjadi raja Buleleng yang dikenal dengan nama Anglurah Panji Sakti) ketika berangkat dari Klungkung ke Buleleng. Jumlah pengiring itu 40 orang. Keempat puluh orang itu dianggap sebagai krama negak yang secara turun-temurun mendapatkan sejumlah keistimewaan. Pakaian krama negak itu pun berbeda dengan warga lainnya, di mana destar-nya putih, baju hitam, saput merah. Warna putih hitam merah itu adalah perwujudan dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Iswara).